PROSES PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
Produktivitas berkaitan erat dengan sistem produksi yaitu sistem dimana faktor-faktor tenaga kerja, modal/kapital berupa mesin, peralatan kerja, bahan baku, bangunan pabrik, dikelola dalam cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang/jasa secara efektif dan efisien. Proses produksi dinyatakan sebagai serangkaian aktivitas yang diperlukan untuk mengolah atau merubah sekumpulan input menjadi sejumlah output yang memiliki nilai tambah.
produktivitas diidentifikasi dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran dan masukan.PROSES PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
Produktivitas berkaitan erat pengertiannya dengan sistem produksi yaitu sistem dimana faktor-faktor semacam tenaga kerja, modal/kapital berupa mesin, peralatan kerja, bahan baku, bangunan pabrik, dikelola dalam cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang/jasa secara efektif dan efisien. Proses produksi dinyatakan sebagai serangkaian aktivitas yang diperlukan untuk mengolah atau merubah sekumpulan input menjadi sejumlah output yang memiliki nilai tambah.
produktivitas diidentifikasi dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran dan masukan. Rasio output dan input dapat dipakai untuk menghampiri usaha yang dilakukan oleh manusia. Sebagai ukuran efisiensi, maka rasio tersebut umumnya berbentuk keluaran yang dihasilkan oleh aktivitas kerja dibagi dengan jam kerja.
Produktivitas bertambah bila ada penambahan secara profesional dari nilai keluaran per masukan. Bila input dalam keadaan konstan, sedang keluaran yang dihasilkan terus bertambah, maka hal ini akan menunjukkan bahwa sumber-sumber efektif dan efisien.

Dua faktor utama yang menentukan produktivitas yaitu :

1. Faktor teknis : yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif dan efisien atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.
2. Faktor manusia : faktor yang berpengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia didalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Ada 2 hal pokok yang menentukan yaitu kemampuan kerja dari pekerja tersebut dan motivasi kerja
addesign2.gifDasar-Dasar Perancangan / Penelitian Kerja (Work Design / Study) Dan Kaitannya Dengan Upaya Peningkatan Produktivitas
Di dalam mempelajari prinsip-prinsip kerja yang ada, maka ruang lingkup yang dipelajari dan dianalisa bukan saja menyangkut prinsip gerakan kerja atau disekitar itu, akan tetapi juga menyangkut banyak prinsip perancangan kerja yang lain. Pada prakteknya maka aktivitas penelitian kerja ini akan mencoba meneliti tiga hal, yaitu :Siapa (who)?, bagaimana (how) ?, dimana (where) ?, kapan (when), bagaimana (what)?.
Unsur manusia yang diamati dalam penelitian ini akan meliputi semua unsur manusia yang ada dalam organisasi baik sebagai pekerja biasa, perencana, ahli teknik, maupun manajer. Beberapa hal di bawah ini harus diperhatikan :
a. Penelitian kerja harus dilaksanakan oleh personil yang berpengalaman dan memiliki latar belakang pengetahuan / pelatihan tentang penelitian kerja yang cukup.
b. Penelitian kerja harus konsisten dengan arah tujuan organisasi yang ada yaitu semaksimal mungkin berusaha meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja.
c. Penelitian kerja dan juga hasil-hasil kerja yang diperoleh dalam analisisnya harus dibuat secara tertulis.
d. Di dalam pelaksanaannya maka penelitian kerja haruslah diketahui dan disetujui baik dari pihak manajemen maupun personil yang diamati performans kerjanya.

Elemen Dasar Dalam Penelitian Kerja

pemikiran kearah usaha pencapaian efisiensi kerja dan pemikiran untuk mempertimbangkan manusia sebagai unsur pokok suksesnya usaha kerja mereka, dan pemikiran kearah pencapaian efisiensi membawa penelitian untuk menghasilkan langkah-langkah kerja secara lebih sistematis dengan urutan-urutan yang logis.

Ruang Lingkup Dan Fase-Fase Penelitian Kerja

Penelitian kerja dapat di bagi ke dalam dua bagian pokok, yaitu penelitian metode / pengaturan proses kerja dan pelaksanaan pengukuran kerja. Hubungan antara penelitian kerja dan kedua bagian pokok tersebut, secara sistematis dapat diperlihatkan.

ANALISIS DAN PERANCANGAN KERJA

Perencanaan kerja (work design) bertujuan untuk menentukan metode terbaik dalam melaksanakan operasi-operasi kerja yang diperlukan dalam proses produksi. Maksud dan tujuan melakukan perancangan kerja adalah untuk meningkatkan produktivitas dan performa kerja dari seluruh sistem produksi yang dicapai melalui :
· Pengembangan tatacara kerja lebih efektif dan efisien terutama ditujukan untuk aktivitas operasional yang diperlukan dalam proses produksi.
· Pengaturan kondisi lingkungan kerja yang lebih ergonomis
Sistem manusia mesin adalah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu beberapa manusia dengan satu atau beberapa mesin dimana salah satu dengan yang lainnya akan saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan yang diperoleh. “Mesin” dalam hal ini mempunyai arti yang luas yaitu mencakup semua obyek fisik seperti peralatan, perlengkapan, fasilitas dan benda-benda yang biasa digunakan manusia dalam melakukan pekerjaannya.
Ada 3 macam hubungan sistem manusia mesin yaitu : manual man machine dan system, semi automatic machine system, automatic man machine system.
Dalam semi automatic man – machine system akan ada mekanisme khusus yang akan mengolah input atau informasi dari luar sebelum masuk ke dalam sistem kerja manusia dan demikian pula reaksi yang berasal dari sistem manusia ini akan dikontrol terlebih dahulu melewati suatu mekanisme tertentu sebelum suatu output berhasil diproses. Contohnya adalah kerja sebuah mobil. Semi automatic man machine system yaitu sistem dimana mesin akan memberikan power dan manusia akan melaksanakan fungsi kontrol.


Analisa Kerja (Work Analysis)


Pada Tipe Flow Shop, proses produksi berlangsung secara terus menerus dan / atau berulang-ulang, menghasilkan produk dalam jumlah besar (mass production) dengan macam / spesifikasi produk sedikit dan standar dalam jangka waktu lama, serta siklus waktu produksi relatif singkat.
Untuk proses produksi yang mengikuti tipe job shop, disini proses produksi dilaksanakan dengan berdasarkan pada produk pesanan yang spesifikasinya mengikuti kemauan kustomernya. Macam produk yang bisa dihasilkan umumnya fleksibel, tidak standard, dan bervariasi tetapi jumlah masing-masing produk yang dibuat relatif terbatas serat frekuinsi perubahan langkah-langkah operasional. Selanjutnya untuk tipe produk yang dihasilkan sangat unik / khusus dengan aktivitas-aktivitas kerja yang begitu kompleks dan saling tergantung satu dengan lainnya.

Beberapa pendekatan dalam restrukturisasi kerja


Langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi dampak sosial psikologis akibat diterapkannya spesialisasi kerja dengan cara rotasi kerja, pembesaran kerja, dan pengkayaan kerja. Dalam rotasi kerja dilakukan pertukaran kerja diantara kelompok kerja dalam frekuensi yang cukup sering dengan pertukaran kerja, diharapkan problem rutinitas, dan kebosanan akibat kerja yang terlalu terspesialisasi akan bisa diatasi dan produktivitas relatif akan lebih baik terutama bila problem rutinitas memang sudah menunjukkan gejala terhadap penurunan performans kerja.


Dengan pembesaran kerja yang bisa dilakukan dengan cara horizontal job enlargement dan vertical job enlargement. Disini aktivitas yang harus dilaksanakan seorang pekerja akan diperluas sesuai dengan keinginan pekerja sebagai pemuasan psikologis untuk memberikan kontribusi sebesar-besarnya dalam aktivitas produksi. Tujuan job enrichment yaitu membuat pekerjaan agar lebih menarik dan memuaskan sehingga produktivitas akan bisa diperbaiki, moral dan legalitas kerja akan bertambah.


Perancangan Kerja (Job Design) :
Upaya Pendekatan Dalam Restrukturisasi Kerja
1. Menerima data / informasi mengenai apa yang harus dikerjakan ataupun perlu segera diambil tindakan. Informasi dalam hal ini diterima melalui organ visual ataupun pendengaran (audio).
2. Mengolah informasi, membentuk persepsi dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang diterima – baik yang dilihat dan / atau yang diterima – melalui indra yang dimiliki dan memorinya.
3. Melakukan tindakan sesuai dengan keputusan yang diambil dengan melakukan berbagai macam aktivitas fisik ataupun mental.

Spesialisasi Kerja

Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nation mengemukakan bahwa dengan spesialisasi kerja maka akan diperoleh manfaat seperti :


· Mengurangi waktu belajar untuk penyelesaian aktivitas tertentu


· Waktu training relatif singkat dan bisa memanfaatkan tenaga unskilled


· Lebih efisien


· Kecepatan kerja bisa dikembangkan

ERGONOMI :

FAKTOR MANUSIA DALAM SISTEM PRODUKSI


Ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya. Human engineering (Ergonomi) didefinisikan sebagai perancangan “man machine – interface” sehingga pekerja dan mesin bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai sistem manusia mesin yang terpadu. Tujuan pokoknya adalah terciptanya desain sistem manusia – mesin yang terpadu sehingga efektivitas dan efisiensi kerja bisa tercapai secara optimal. Dengan ergonomi proses perancangan mesin akan memperhatikan aspek manusia dalam interaksinya dengan mesin secara lebih baik lagi. Untuk mengembangkan ergonomi maka diperlukan dukungan berbagai disiplin keilmuan seperti psikologi, antropologi, faal/anatomi dan teknologi.


Suatu sistem akan terjadi dalam lingkungan yang akan memberi batasan, dan perubahan-perubahan yang timbul dalam lingkungan ini akan mempengaruhi sistem dan elemen-elemen sistem tersebut. Satu hal yang akan sangat penting dipertimbangkan di dalam analisis sistem ialah bahwa setiap sistem akan merupakan bagian (sub sistem) dari sistem lain yang lebih besar.

Anthropometri dan aplikasinya dalam perancangan fasilitas kerja

Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan argonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
· Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain)
· Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.
· Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi / meja komputer dan lain-lain.
· Perancangan lingkungan kerja fisik.
Anthorporentri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data anthopometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas dalam hal : perancangan areal kerja, perancangan peralatan kerja, perancangan produk konsumtif, perancangan lingkungan kerja fisik. Data ini akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut.



Aspek ergonomi dalam perancangan stasiun kerja


Ukuran sukses suatu sistem produksi dalam industri biasanya dinyatakan dalam bentuk besarnya produktivitas atau besarnya rasio output per input yang dihasilkan. Apa, bagaimana dan dimana pekerjaan akan diselenggarakan akan merujuk pada konsep pemilihan alternatif metode kerja yang efektif-efektif dan pengaturan lingkungan fisik kerja yang layak.


Dengan pendekatan ergonomis diharapkan sistem produksi bisa dirancang untuk melaksanakan kegiatan kerja tertentu dengan didukung oleh keserasian hubungan antara manusia dengan sistem kerja yang dikendalikannya. Pendekatan ergonomis membawa kita dalam rancangan sistem kerja (man made object) sehingga manusia akan dapat menggunakannya secara efektif, efisien, aman dan mampu menciptakan lingkungan fisik kerja yang layak dan nyaman.
Pendekatan ergonomis dalam perancangan stasiun kerja
1) Sikap dan posisi kerja
2) Anthropometri dan dimensi ruang kerja
3) Kondisi lingkungan kerja
4) Efisiensi ekonomi gerakan dan pengaturan fasilitas kerja
5) Enersi kerja yang dikonsumsikan


Kondisi lingkungan fisik kerja yang mempengaruhi aktivitas kerja manusia


Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap aktivitas kerja manusia adalah kondisi lingkungan kerja yang semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja seperti : temperatur, kelembaban udara, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna yang hal itu berpengaruh terhadap hasil kerja manusia.



TELAAH METODE :

PENGEMBANGAN METODE UNTUK MENGEFEKTIFKAN DAN MENGEFISIENKAN KERJA


Dengan telaah metode kerja (method analysis) dimaksudkan untuk mempelajari prinsip dan teknik. 4 macam komponen sistem kerja yang harus dipelajari guna memperoleh material, komponen manusia, komponen mesin dan komponen lingkungan kerja fisik.


Identifikasi maksud dan tujuan operasi kerja


a. Perancangan komponen benda kerja
b. Pemilihan bahan baku (material)
c. Penetapan proses manufacturing
d. Perencanaan proses set-up mesin dan perkakas
e. Perbaikan kondisi lingkungan kerja
f. Perencanaan proses pemindahan bahan

Analisa kerja dan prinsip ekonomi gerakan


Analisa operasi kerja adalah prosedur yang dilakukan untuk menganalisa suatu operasi kerja baik yang menyangkut suatu elemen kerja yang bersifat produktif atau tidak. Bertujuan untuk mengeleminir atau mengkombinasikan operasi-operasi kerja (yang tidak dibutuhkan) sebelum memperbaikinya. Penyederhanaan operasi kerja dapat dilakukan dengan cara : perancangan komponen benda kerja, pemilihan bahan baku. Penetapan proses manufakturing, perencanaan proses set up mesin dan perkakas, perbaikan kondisi lingkungan kerja, perencanaan proses pemindahan bahan.


Aplikasi prinsip-prinsip ekonomi Gerakan


· Prinsip ekonomi gerakan dihubungkan dengan penggunaan badan / anggota tubuh manusia.
· Prinsip ekonomi gerakan berhubungan dengan tempat kerja berlangsung.
· Prinsip ekonomi gerakan berhubungan dengan desain peralatan kerja yang dipergunakan
· Eleminasi kegiatan
· Kombinasi gerakan atau aktivitas kerja
· Penyederhanaan kegiatan

Studi gerakan untuk menganalisa metode kerja yang efektif dan efisien


Suatu studi tentang gerakan-gerakan yang dilakukan pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Studi ekonomi gerakan yaitu studi yang menitikberatkan pada penerapan prinsip ekonomi gerakan.


Maksud utama studi gerakan adalah untuk mengeleminir atau mengurangi gerakan-gerakan yang lebih efektif sehingga diharapkan pekerjaan akan dilaksanakan secara lebih mudah dalam studi gerakan adalah Frank dan Lilian Gilberth


Gerakan-gerakan fundamental untuk pelaksanaan kerja manual : Mencari (serch), Memilih (Select), Memegang, Menjangkau / membawa tanpa beban, Membawa dengan beban, Memegang untuk memakai, Melepas (release load), dll



PETA KERJA SEBAGAI ALAT UNTUK MENGANALISA
AKTIVITAS KERJA



Peta kerja merupakan alat yang baik untuk dipakai menganalisa suatu operasi kerja dengan tujuan mempermudah / menyederhanakan proses kerja yang ada.


Ada berbagai macam peta kerja yang umum dipakai untuk menganalisa proses kerja keseluruhan, yaitu :



A. Peta proses operasi


Adalah peta kerja yang mencoba menggambarkan urutan kerja dengan jalan membagi pekerjaan tersebut elemen-elemen operasi secara detail.



B. Peta aliran proses (flow process chart)


Adalah suatu peta yang akan menggambarkan semua aktivitas produktif-maupun tidak produktif yang terlibat dalam proses pelaksanaan kerja. Pada prinsipnya peta aliran proses hampir sama dengan peta proses operasi.



C. Diagram Aliran (Flow Diagram )
Tujuan pokok pembuatan flow diagram adalah untuk mengevaluasi langkah-langkah proses dalam situasi yang lebih jelas, selain bisa dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan didalam desain layout fasilitas produksi yang ada.



D. Peta kerja guna menganalisa proses kerja setempat


Peta kerja guna menganalisa proses kerja setempat digunakan untuk menganalisa dan memperbaiki proses kerja yang ada dalam suatu stasiun kerja sehingga dicapai keadaan ideal.



Peta-Peta Kerja Guna Menganalisa Proses Kerja Setempat

a. Peta pekerja dan mesin


b. Peta kelompok kerja


c. Peta tangan kiri dan tangan kanan atau peta operator



Peta-Peta Kerja Guna Menganalisa Proses Kerja Keseluruhan

1. Simbol-Simbol Standard Yang Dipakai Untuk Pembuatan Peta Kerja :Operasi, Material process chart, Man-process chart, Transportasi, Inspeksi, Menunggu, Menyimpan, Aktivitas ganda


2. Peta Proses Operasi : Mengapa (Why), Apa (What), Bagaimana (How), Siapa (Who), Dimana (Where), Kapan (When).


3. Peta Proses Produk Banyak


4. Peta Aliran Proses


5. Diagram Aliran


PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN
METODE PENGUKURAN LANGSUNG



Pengukuran waktu kerja berhubungan dengan usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan waktu baku diperlukan untuk :


* Man power planning


* Estimasi biaya-biaya untuk upah karyawan


* Penjadwalan produksi dan penganggaran



Pengukuran waktu kerja dengan jalan henti (stop watch time study)


Diperkenalkan pada abad 19 oleh Frederick W. Taylor. Metode ini baik diaplikasikan untuk pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang. Pengukuran kerja dengan jam henti merupakan cara pengukuran yang obyektif karena waktu ditetapkan berdasarkan fakta yang terjadi dan tidak cuma sekedar diestimasi secara subyektif.


Prosedur pelaksanaan dan peralatan yang digunakan dalam pengukuran waktu kerja jam henti meliputi penetapan tujuan pengukuran, persiapan awal pengukuran waktu kerja, pengadaan kebutuhan alat-alat pengukuran kerja, Pembagian operasi menjadi elemen-elemen kerja, Cara pengukuran dan pencatatan waktu kerja, Penetapan jumlah siklus kerja yang diamati, Metode sederhana untuk menetapkan jumlah pengamatan, Analisa / test keseragaman data, Penyesuaian waktu dengan rating performance kerja :


a. Skill dan effort rating


b. Westing house system’s rating


c. Synthetic rating


d. Performance rating atau speed rating


Penetapan waktu longgar dan waktu baku

a. Kelonggaran waktu untuk kebutuhan personal


b. Kelonggaran waktu untuk melepaskan lelah


c. Kelonggaran waktu karena keterlambatan-keterlambatan



Prosedur pelaksanaan dan peralatan yang digunakan dalam pengukuran waktu kerja jam henti


Banyak faktor yang harus diperhatikan agar diperoleh waktu standard untuk pekerjaan yang bisa seperti yang berhubungan dengan kondisi kerja, kerjasama yang ditunjukkan operator untuk mau bekerja secara wajar pada saat diukur, cara pengukuran, jumlah siklus kerja yang diukur.



Pengukuran Kerja Dengan Metode Sampling

1. Prosedur pelaksanaan sampling kerja

2. Penentuan jumlah sample pengamatan yang dibutuhkan


3. Penentuan tingkat ketelitian untuk pengamatan yang diharuskan


4. Penggunaan tabel angka acak dalam sampling kerja.


5. Penetapan frekuensi pengamatan


6. Pemakaian peta kontrol dalam sampling kerja


7. Aplikasi dan metode sampling



Pembagian Operasi Menjadi Elemen Kerja

1. Cara yang baik untuk menggambarkan suatu operasi dengan membagi kedalam elemen-elemen kerja yang lebih detail

2. Besarnya waktu baku bisa ditetapkan dengan elemen-elemen pekerjaan yang ada dalam hal ini dikenal sebagai elemen baku atau standar bata.


3. Membangi kedalam elemen-elemen kerja maka akan dapat dianalisa waktu yang berlebihan untuk tiap-tiap elemen.


4. Seorang operator bisa jadi akan bekerja pada tempo yang berbeda.




PENGUKURAN KERJA DENGAN
METODE PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG


Pengukuran Kerja Dengan Metode Analisa

Menggunakan model analisa regresi akan dapat diaplikasikan, yaitu bilamana sejumlah data waktu dapat diperoleh melalui beberapa eksperimen, dan dikaitkan dengan satu atau beberapa variable tertentu.



Pengukuran Waktu Metoda

1. Gerakan-gerakan dasar pada pengukuran waktu metode menjangkau


2. Mengangkut


3. Memutar


4. Menekan


5. Memegang


6. Mengarahkan


7. Melepas


8. Melepas rakit


9. Gerakan mata


10. Gerakan anggota badan, kaki dan telapak kaki



Pengukuran kerja dengan metode standard data

Penetapan waktu baku dengan metoda standard data sangat sederhana sekali disamping tentunya juga lebih mudah / cepat dilaksanakan. Problem pengumpulan data waktu baku untuk berbagai jenis pekerjaan melalui aktivitas stopwatch time study seperti yang biasanya dilakukan.

Variabel-variabel utama dari faktor kerja

Sesuai dengan sistem faktor kerja ada 4 variabel utama yang akan mempengaruhi waktu untuk melaksanakan gerakan kerja manual yaitu :


* Anggota tubuh yang digunakan


* Jarak yang harus ditempuh, kontrol manual yang diperlukan, dan berat atau tahanan yang menghambat



Penetapan waktu baku dengan data waktu gerakan/predetermined motion time system


Predetermined time system terdiri dari suatu kumpulan data waktu dan prosedur sistematik dengan menganalisa dan membagi-bagi setiap operasi kerja yang dilaksanakan oleh operator ke dalam gerakan-gerakan kerja, gerakan-gerakan anggota tubuh, atau elemen gerakan manual lainnya dan kemudian ditetapkan nilai waktu masing-masing berdasarkan waktu yang ada.


Keuntungan pokok predetermined system ialah sistem ini bisa dipakai untuk menetapkan waktu baku suatu operasi kerja bilamana pola gerakan kerja diketahui.


Proses kerka / operasi bisa ditetapkan dengan berbagai macam cara yaitu dengan stopwatch time study, sampling kerja atau standar data waktu baku.


Variabel-variabel utama dari faktor kerja


1. Anggota tubuh yang digunakan


2. Jarak yang harus ditempuh


3. Kontrol manual yang diperlukan


4. Berat atau tahanan yang menghambat


PENGUKURAN ENERGI FISIK SEBAGAI TOLOK UKUR
PERBAIKAN TATA CARA KERJA



Berat/ringannya kerja yang dilakukan oleh pekerja bisa ditentukan oleh gejala perubahan yang tampak dan bisa diukur lewat pengukuran anggota tubuh/fisik manusia seperti : laju detak jantung, tekanan darah, temperatur badan, laju pengeluaran keringat, konsumsi oksigen yang dihirup, kandungan kimiawi dalam darah. Seorang pekerja akan bisa ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dan bisa diukur lewat pengukuran anggota tubuh / fisik manusia antara lain seperti :


1. Laju detak jantung


2. Tekanan darah


3. Temperatur badan


4. Konsumsi oksigen yang terhirup


5. Kandungan kimiawi dalam darah


Selain dimanfaatkan untuk evaluasi dan perancangan tata cara kerja, hasil pengukuran energi yang dikonsumsikan untuk kerja juga bisa diaplikasikan untuk beberapa atasan yang berkaitan dengan :


* Keselamatan/safety tiap pekerjaan harus dirancang dan disesuaikan dengan kemampuan fisik dari individu pekerja


* Pengaturan jadwal periode istirahat


* Spesifikasi jabatan dan seleksi personil


* Evaluasi jabatan (job evaluation)


* Tekanan dari faktor lingkungan



Kerja fisik dan konsumsi energi kerja


Kerja fisik/physical work adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber tenaganya. Dalam kerja fisik ini, konsumsi energi merupakan faktor utama dan tolok ukur yang dipakai sebagai penentu berat/ringannya kerja fisik tersebut.

Proses metabolisme


Proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh manusia merupakan phase penting sebagai penghasil energi yang diperlukan untuk kerja fisik. Besarnya energi yang dihasilkan dinyatakan dalam satuan kilo kalori/kcal atau kilo joules (kJ)


Dalam fisiologi kerja, energi yang dikonsumsikan bisa diukur secara langsung yaitu melalui konsumsi oksigen yang dihisap.



peningkatan efisiensi kerja fisik


Gerakan yang dilakukan oleh anggota tubuh manusia khususnya tangan dan kaki saat melaksanakan kerja fisik sangat ditentukan oleh kemampuan ototnya.


Agar penggunaan tenaga otot bisa optimal maka pengaturan cara kerjanya otot harus diperhatikan dengan benar kegiatan otot dibedakan dalam 2 hal :


* Kerja otot dinamik/berirama


* Kerja otot statistik


Maksimum tenaga kerja yang bisa dihasilkan oleh otot manusia sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur.



Faktor kelelahan pengukuran, dan pengaturan jadwal waktu kerja

Kelelahan akibat kerja diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi, performans kerja dan berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Macam-macam kelelahan :


* Lelah otot adalah munculnya gejala kesakitan yang amat sangat ketika otot harus menerima beban yang berlebihan


* Lelah visual adalah lelah yang diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organisasi (mata)


* Lelah mental/lelah otak adalah lelah yang disebabkan lewat kerja mental (misal proses berpikir)


* Lelah monotoris adalah kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas yang bersifat rutin, monoton atau lingkungan kerja yang menjemukan


Kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor yang berlangsung secara terus menerus dan terakumulasi menyebabkan “lelah kronis”. Gejala-gejala akibat lelah kronis :


· Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran atau asosial


· Munculnya sikap apatis terhadap pekerjaan


· Depresi yang berat


Problematik kelelahan membawa manajemen untuk selalu mencari jalan keluarnya. Selain memberikan waktu istirahat yang cukup untuk proses pemilihan (recovery) kondisi fisik yang lelah, pengaturan waktu kerja yang diselingi dengan beberapa kali waktu kerja bisa memberikan dampak perubahan terhadap efisiensi operator. Pemberian istirahat pada dasarnya diperlukan untuk memulihkan kesegaran fisik/mental bagi diri pekerja.


APLIKASI ANALISA TATACARA DAN PENGUKURAN
KERJA DALAM SISTEM PRODUKSI


Kompensasi finansial dan system pemberian insensif (bonus) kerja


Bentuk insentif selain uang adalah promosi, pujian akan kemampuan, hadiah barang dan sebagainya. Pemberian intensif bisa secara singkat didefinisikan sebagai “extra pay for extra performance”.


Dasar penetapan besarnya intensif yang dibayarkan adalah efisiensi kerja operator yang diukur menurut output yang dihasilkan dibandingkan dengan standard output yang ditetapkan. Faktor tidak langsung yang bisa dipakai sebagai dasar penetapan besarnya intensif seperti kehadiran/absensi, disiplin kerja, kreativitas.



Tatacara pembayaran dan intensif kerja


Metode yang umum diaplikasikan dalam pembayaran upah :


a. Metode pembayaran upah berdasarkan hasil kerja


b. Metode pembayaran upah dan intensif kerja berdasarkan unit periodik yang dihasilkan


c. Metode pembayaran upah dan intensif berdasar jam kerja standar dicapai


d. Metode pembayaran upah dan intensif kerja berdasar prestasi kerja kelompok


Secara ideal bonus/insentif satu minggu sekali merupakan frekuensi yang umum diaplikasikan bilamana dikaitkan dengan periode pemberian upah kepada para pekerja langsung.



Pengukuran output kerja


Dalam menghitung bonus, efisiensi (x) harus dihitung lebih dulu.


Efisiensi =


Problem yang dijumpai dalam incentive plan berdasarkan output


* Waktu siklus yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh manusia tetapi sebagian dikendalikan oleh mesin


* Kualitas produk


* Proses belajar


Sistem produksi tepat waktu (just in time production system)


1. Menghasilkan produk sesuai dengan jumlah dan jadwal waktunya


2. Memproduksi dalam unit-unit kecil


3. Menghilangkan “waste” semaksimal mungkin


4. Terus-menerus memperlancar aliran produksi


5. Menghasilkan produk yang berkualitas


6. Menghargai sumber daya manusia


7. Menghilangkan kondisi-kondisi yang tidak pasti


8. Menjaga kesinambungan program.



Sistem produksi tepat waktu production system merupakan suatu konsep yang mencoba mempraktekkan secara persis keinginan untuk menghilangkan sisa atau kelebihan hasil proses produksi yang tidak diperlukan. Dengan JIT, sistem produksi dirancang sedemikian rupa agar menghasilkan unit output produksi secara tepat dalam jumlah serta saat yang diperlukan saja.


Dalam sistem produksi, aplikasi praktis dari JIT dapat dilakukan dengan cara :


a. Memproduksi hanya dalam jumlah yang diperlukan saja dan menghindari adanya “stock” baik berupa bahan baku, bahan penunjang maupun produk akhir


b. Built in Quality’


c. Menekan biaya seminimal mungkin