Sudah lama blog ini ngga aku kunjungi…

lagi cari article tentang risk mangement nih, kebetulan pos baru ku ini terasa asing dan aku sendiri belum tahu apa yang kan ku kerjakan dan target yan diharapkan dari pos baru ini.

Effective problem solving

As a university student you are likely to be involved with a wide range of activities on campus, at work, in your home, with your friends. At some time during these activities, challenges or issues or problems will arise. Most students deal with challenges daily and solve problems almost automatically. Sometimes, however, there will be a significant issue which is difficult to solve quickly or automatically. You will then want to know, ‘How do I solve this problem?’ The first aim of the following information is to help you answer that question.

contoh.jpg

My Home in Google earth

In addition to assisting you with an immediate issue, problem solving is also a life skill. The University considers that problem solving is such an important skill that it focuses on its students becoming ‘effective problem solvers by applying logical, critical and creative thinking to a range of problems’ (Word doc 45.5kb). And so the second aim of this Learning Guide, is to help you become an ‘effective problem solver’.

Baca entri selengkapnya »

Six Big Losses

Defining the Six Big Losses

One of the major goals of TPM and OEE programs is to reduce and/or eliminate what are called the Six Big Losses – the most common causes of efficiency loss in manufacturing. The following table lists the Six Big Losses, and shows how they relate to the OEE Loss categories.

Baca entri selengkapnya »

Calculating OEE

The Formulas

As described in World Class OEE, the OEE calculation is based on the three OEE Factors: Availability, Performance, and Quality. Here’s how each of these factors is calculated.

Availability

Availability takes into account Down Time Loss, and is calculated as:

 Availability = Operating Time / Planned Production Time
Performance

Performance takes into account Speed Loss, and is calculated as:

 Performance = Ideal Cycle Time / (Operating Time / Total Pieces)

Ideal Cycle Time is the minimum cycle time that your process can be expected to achieve in optimal circumstances. It is sometimes called Design Cycle Time, Theoretical Cycle Time or Nameplate Capacity.

Since Run Rate is the reciprocal of Cycle Time, Performance can also be calculated as:

 Performance = (Total Pieces / Operating Time) / Ideal Run Rate

Performance is capped at 100%, to ensure that if an error is made in specifying the Ideal Cycle Time or Ideal Run Rate the effect on OEE will be limited.

  Baca entri selengkapnya »

Dari Modul Training QCC  ~ Rewriting Dedi Mulyadi

 

LATAR BELAKANG

 

Upaya untuk meningkatkan mutu dan produktivitas serta kinerja suatu satuan kerja, baik di dunia usaha maupun birokrasi, perlu dilaksanakan secara terus menerus sehingga dapat berfungsi dan mencapai tujuannya dengan optimal.

 

Sejak dahulu, terutama di Eropa dan Amerika Serikat dikembangkan konsep manajemen dan organisasi yang bertujuan meningkatkan kinerja organisasi. Antara lain dapat dikemukakan adalah konsep Max Weber tentang Birokrasi, Konsep Taylor tentang Manajemen ilmiah, Fayol dengan 14 prinsip-prinsip, serta konsep perilaku manusia yang mengutamakan motivasi dan pendekatan demokrasi.

 

Konsep serta prinsip organisasi dan manajemen ini, telah mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi baik pada perusahaan, pemerintahan dan organisasi sosial.

 

Total Quality Control (Pengendalian Mutu Terpadu) diprakarsai oleh Dr. J.M. Juran dan Dr. E.W. deming dan dikembangkan di Jepang pada April 1962oleh Kaoru Ishikawa dengan menerapkan Quality Control Circle (QCC) atau Gugus Kendali Mutu (GKM). QCC adalah salah satu konsep baru untuk meningkatkan mutu dan produktivitas kerja industri/jasa. Terbukti bahwa salah satu faktor keberhasilan industrialisasi di Jepang adalah penerapan QCC secara efektif. Karena keberhasilan ini, sejumlah negara industri maju dan sedang berkembang termasuk Indonesia, menerapkan QCC diperusahaan-perusahaan industri guna meningkatkan mutu, produktivitas dan daya saing.

Baca entri selengkapnya »

PEMBERDAYAAN DIRI
A. B. Susanto *


Keberhasilan karir bermuara pada perjuangan, dan mungkin juga nasib baik. Namun tentu kita tidak dapat menunggu nasib baik menghampiri kita agar karir kita bersinar terang. Kita harus memberdayakan diri kita sedemikian rupa untuk meretas belenggu nasib.

shiva_dances.gif
BERGEMBIRALAH KARENA KEGEMBIRAAN MILIK KITA , JANGAN PERNAH BEBANI HATI INI DENGAN KESEDIHAN YANG TERAMAT DALAM “

Untuk itu, kita harus mengatasi kelemahan diri, misalnya rasa malas, mudah menyerah, dan hal-hal buruk lainnya, agar mampu bekerja secara berkualitas dan secara proaktif memperlihatkan kualitas pekerjaan secara nyata. Caranya adalah melakukan perubahan sebagai saran pemberdayaan diri.

Kita harus menyadari kekuatan dan kelemahan diri sebagai upaya menumbuhkembangkan keinginan untuk mengubah citra diri yang negatif, dan mengembangkan konsep diri yang lebih positif.
Baca entri selengkapnya »

Oleh: Vincent Gaspersz

Dalam setiap bidang kehidupan, kita harus menjadi seorang problem solver yang profesional. Namun dalam kenyataan tidak banyak orang yang berhasil, malahan mereka menjadi frustrasi dan kemudian menyalahkan lingkungan atau faktor-faktor di luar pengendalian (uncontrollable causes), yang pada akhirnya berakibat pada Stress (lulus S1), lalu meningkat menjadi Stroke (lulus S2) dan pada akhirnya mengakibatkan Stop—kematian (lulus S3), dari Universitas Kehidupan!

Baca entri selengkapnya »

Down time vs Capacity

Down time vs Capacity

Klasifikasi waktu
Productive time
= waktu yg dihabiskan oleh mesin untuk menghasilkan output yg sesuai standar, termasuk di dalamnya produk trial
Non-productive time = waktu yg digunakan oleh mesin dalam kondisi tidak berproduksi atau menghasilkan produk yg sub-standard
Down time factor = penyebab terjadinya Non-Productive Time

Berdasarkan definisi di atas, maka aktivitas ‘trial production’ (untuk membedakannya dgn regular/normal production) menjadi bagian dari productive time, walaupun pada kenyataan di lapangan, pd saat trial, sering terjadi mesin harus mengalami perubahan setting yg berulang atau naik turun mold utk adjustment.

Trial = Productive
Kinerja plant diukur dari produktivitas & kapasitas yg digunakan
Jika trial = downtime, maka trial = non-produktif
Jika trial <> produktif maka plant tidak mau trial
Jika tidak ada trial -> tidak ada pengembangan produk dan inovasi

Sebaliknya, jika output yg dihasilkan adalah produk yg tidak memenuhi standar produksi, maka selayaknya waktu yg digunakan dianggap sebagai non-productive time
addesign3.gif
Sub-Standard = Non-Productive
Waktu yg habis saat memproduksi produk sub-standard tidak bisa kembali -> rugi waktu
Waktu utk produk sub-standard = Kapasitas sudah terpakai -> Non-Productive
Total produk standard + total produk sub-standard = total produk yg seharusnya bisa dihasilkan berdasarkan kapasitas yg sudah terpakai

Baca entri selengkapnya »

PROSES PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
Produktivitas berkaitan erat dengan sistem produksi yaitu sistem dimana faktor-faktor tenaga kerja, modal/kapital berupa mesin, peralatan kerja, bahan baku, bangunan pabrik, dikelola dalam cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang/jasa secara efektif dan efisien. Proses produksi dinyatakan sebagai serangkaian aktivitas yang diperlukan untuk mengolah atau merubah sekumpulan input menjadi sejumlah output yang memiliki nilai tambah.
produktivitas diidentifikasi dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran dan masukan.PROSES PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
Produktivitas berkaitan erat pengertiannya dengan sistem produksi yaitu sistem dimana faktor-faktor semacam tenaga kerja, modal/kapital berupa mesin, peralatan kerja, bahan baku, bangunan pabrik, dikelola dalam cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang/jasa secara efektif dan efisien. Proses produksi dinyatakan sebagai serangkaian aktivitas yang diperlukan untuk mengolah atau merubah sekumpulan input menjadi sejumlah output yang memiliki nilai tambah.
produktivitas diidentifikasi dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran dan masukan. Rasio output dan input dapat dipakai untuk menghampiri usaha yang dilakukan oleh manusia. Sebagai ukuran efisiensi, maka rasio tersebut umumnya berbentuk keluaran yang dihasilkan oleh aktivitas kerja dibagi dengan jam kerja.
Produktivitas bertambah bila ada penambahan secara profesional dari nilai keluaran per masukan. Bila input dalam keadaan konstan, sedang keluaran yang dihasilkan terus bertambah, maka hal ini akan menunjukkan bahwa sumber-sumber efektif dan efisien.

Dua faktor utama yang menentukan produktivitas yaitu :

1. Faktor teknis : yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif dan efisien atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.
2. Faktor manusia : faktor yang berpengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia didalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Ada 2 hal pokok yang menentukan yaitu kemampuan kerja dari pekerja tersebut dan motivasi kerja
Baca entri selengkapnya »